Petunjuk keberadaan ponsel milik almarhum Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir, korban pembunuhan yang didalangi Ferdy Sambo, mulai menemukan titik terang.
Ponsel Brigadir J ini sempat ditanyakan ibu korba, Roslin Simanjuntak saat bersaksi untuk terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi di Pengadillan Negeri Jakarta Selatan pada Selasa (1/11/2022).
Awalnya, kuasa hukum Ferdy Sambo, Rasamala Aritonang menanyakan terkait komunikasi ibunda dengan Brigadir J semasa hidup.
“Dia sedang tugas, ada komunikasinya, kalau telat dia ada hubungi maaf mak abang ada tugas, nanti abang kabari kegiatan abang di pekerjaan.”kata Rosti di persidangan.
“Seminggu berapa kali?”tanya Rasamala.
“Sudah ada di HP saya. Tolong Putri kembalikan ke saya ibu kandungnya. Sebagai orang tua saya sudah hancur mengingat-ingat momen saya dengan anak saya. Alat komunikasi anak saya tolong kembalikan biar lebih detail,”jawab Rosti Simanjuntak.
Mendapat desakan itu, baik Ferdy Sambo, Putri Candrawathi maupun tim kuasa hukumnya tak ada satupun yang memberi jawaban.
Lalu, dimana sebenarnya ponsel Brigadir J saat ini?
Petunjuk mengenai ponsel Brigadir J diungkapkan mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Ridwan Soplanit saat bersaksi dalam perkara penghalangan penyidikan atau obstruction of justice terdakwa Hendra Kurniawan, pada Kamis (3/11/2022).
AKBP Ridwan Soplanit mengaku sempat memerintahkan anggotanya untuk mencari handphone (HP) Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.
Perintah itu diberikan saat jasad Brigadir Yosua masih tergeletak di rumah dinas Ferdy Sambo di Komplek Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Dia memerintahkan untuk memeriksanya di saku celana korban.
Pernyataan itu disampaikan Ridwan saat hadir menjadi saksi dalam sidang kasus obstruction of justice pembunuhan Yosua.
Adapun terdakwa yang menjalani sidang adalah Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria.
"BAP nomor 9, 'Saya mengingatkan agar barang bukti maupun saksi, CCTV, senpi, HP dan barang bukti lainnya'. Barang bukti apa saja yang sudah diambil tanggal 8?" tanya kuasa hukum Hendra dan Agus di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (3/11/2022).
Ridwan menjelaskan saat itu dia meminta anggotanya untuk mencari HP Brigadir Yosua.
Namun setelah dirogoh kantung celananya, anggotanya tidak menemukan telepon genggam milik Brigadir Yosua.
"Saya tanya coba di cek HP yang dimiliki Yosua, waktu itu dicek di saku-saku korban tapi tidak ada," kata Ridwan.
Setelah itu, Ridwan juga meminta untuk mencari hp milik Brigadir Yosua ditempat lain. Dia juga bertanya kepada para ajudannya Ferdy Sambo soal keberadaan hp tersebut.
"Saya tanya coba di cek HP yang dimiliki Yosua, waktu itu di cek di saku-saku korban tapi tidak ada. Kemudian saya sempat menayakan kepada ajudan, 'Coba kalian cek itu HP Yosua.' Saat itu apakah tertinggal di mobil atau di mana. Itu masalah HP," beber Ridwan.
Adik Brigadir J Sempat menghubungi
Mahareza Risky Hutabarat, mengaku sempat mencoba menghubungi ponsel Brigadir J sebelum mendapat kabar meninggalnya sang kakak.
Ceritanya setelah pembunuhan itu Reza diminta ajudan Ferdy Sambo bernama Deden ke Biro Provos Mabes Polri dengan memakai pakaian dinas lapangan atau PDL.
Sayangnya, semua baju PDL adik Josua itu ada di tempat laundry.
Ia pun menghubungi pihak laundry dan bertanya apakah baju miliknya sudah selesai dikerjakan semua.
Setelah pihak laundry mengatakan baju Reza Hutabarat sudah selesai dikerjakan, Ia langsung berniat untuk mengambilnya.
Namun, hatinya juga tergerak untuk main ke rumah Ferdy Sambo yang berada di Saguling dulu.
Saat Reza sampai di Saguling, Daden langsung terlihat kaget. Pasalnya, ia sudah menyuruhnya untuk ke Biro Provos.
"Di hati itu kayak ‘udah ambil (laundry) aja’, tapi enggak tau ya, gerakan hati kayak ‘ah main dulu lah ke Saguling’."
"Mampir ke sana dan kebetulan banget, pas banget langsung ketemu Bang Daden. Nyampe sana dia langsung (kaget) ‘eh kok belum berangkat, za?’. ‘Iya, bang. PDL-ku lagi di laundry-an’. ‘Masih lama enggak tuh (laundry-nya)?’. ‘Udah kok, bang. Tadi kuhubungi orang laundry-nya, katanya udah selesai, tinggal ambil aja’. ‘Oh yaudah’," sambungnya.
Setelah itu, Daden langsung bertanya ke Reza Hutabarat apakah saat itu dia membawa senjata api, bahkan badannya langsung digeledah oleh ajudan Ferdy Sambo itu.
Bak tak percaya dengan omongan Reza Hutabarat, Daden tak hanya menggeledah tubuhnya, tapi juga jok motornya.
“‘Eh, kamu bawa senpi enggak?’, langsung digeledah kan, dipegang semua (tubuhnya) sama dia (Daden), kosong (enggak ada senpi). (Kata Daden) ‘Coba deh kita cek ke motor’, masih tidak percaya (enggak bawa senpi). (Reza) Buka jok motor, digeledah lagi, enggak ada apa-apa,” jelasnya.
Usai menggeledah tubuh dan motor, Daden memerintahkan Reza Hutabarat untuk langsung ke Biro Provos.
“Oh oke deh. Kamu nanti gini aja, kalau emang udah nyampe (Biro Provos), kabarin gua ya. Buruan ya, soalnya udah ditunggu banget tuh,”
Reza Hutabarat akhirnya langsung mengambil laundry dan berganti baju untuk menuju Biro Provos setelah Daden menyebut kalau kedatangannya sudah ditunggu.
Sesampainya di Biro Provos, Reza Hutabarat merasa heran sekaligus ketakutan.
Pasalnya ia merasa tak melakukan kesalahan apapun.
Kala itu Reza Hutabarat belum juga mengetahui Brigadir J sudah meninggal dunia.
"Ini kenapa?" ucap Reza Hutabarat.
"Banyak banget orang Paminal, ada Brigjen Hendra Kurniawan, saya ketakutan, kenapa ya," imbuhnya.
Reza Hutabarat lalu akhirnya memutuskan untuk mengirimkan pesan WhatsApp kepada Brigadir J.
Pesan tersebut dikirim sekitar pukul 20.00 WIB, atau sekitar dua jam setelah Brigadir J ditembak mati di rumah dina Ferdy Sambo.
"Sempet juga jam 8 saya ngechat abang, saya ketakutan," ucap Reza Hutabarat.
"Bang ini adik dipanggil Biro Provos kenapa ya?" imbuhnya.
Kala itu pesan WhatsAppa Reza Hutabarat tak terkirim.
Ia lalu kembali mencoba untuk menghubungi Brigadir J melalui telepon namun hasilnya nihil.
"Cuma ceklis satu via WhatsApp, abang jarang nih HPnya mati, kenapa ya?" kata Reza Hutabarat.
"Ditelepon juga tidak dapat dihubungi," imbuhnya.
Nomor Diblok Putri Candrawathi
Setelah mengetahui sang kakak tewas, Reza sempat menghubungi Putri Candrawati, ajudan dan beberapa orang yang bekerja dengan Ferdy Sambo usai Yosua dimakamkan.
Akan tetapi, Reza tak bisa terhubung dengan mereka. Reza mengaku nomor telepon selularnya diblokir oleh Putri, ajudan dan beberapa orang yang bekerja di rumah mantan Kepala Divisi Profesi dan Kemanan (Kadiv Propam) itu.
"Pernah (menghubungi) tapi nomornya diblok," ungkap Reza dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu (2/11/2022).
"Siapa yang Saudara telepon?" tanya jaksa.
Reza pun menyebutkan beberapa sekuriti di rumah Sambo yaitu Damson, Matius, dan Dedi.
Reza juga menghubungi ajudan Sambo, Adzan Romer.
Namun, mereka semua tak bisa dihubungi.
"Damson blok saya, Matius blok saya, Romer juga blok saya, saya minta nomor Dedi, saya juga diblok, sama saya sempat chat Bu Putri 'selamat siang ibu mohon izin', ternyata diblok juga," papar Reza. "Apa itu yang nge-blok teman almarhum?" kata jaksa.
Reza mengatatakan, orang-orang yang dia hubungi merupakan orang yang bekerja di rumah Sambo yang berada di Saguling.
"Ya yang kerja sama ibu PC (Putri Candrawathi," kata dia. Reza mengaku tidak mengetahui kapan orang-orang yang dihubungi itu memblokirnya.
Namun, pemblokiran itu diketahui karena ia mencoba menghubungi mereka setelah Yosua meninggal dunia.
"Enggak tahu kapan blok, tapi pas coba hubungi enggak bisa," ucapnya.
Reza juga yakin nomor ponselnya diblokir lantaran tak bisa melihat foto profil orang-orang yang dihubungi tersebut.
"Mereka sempat saya lihat masih pakai profil. Terus setelah kejadian dan pemakaman enggak ada profil dan chat ceklis 1," katanya.
Selanjutnya, Reza juga mengaku pernah menghubungi Ricky Rizal. Akan tetapi, ajudan Ferdy Sambo berpangkat Bripka itu juga tidak bisa dihubungi. "Pernah (menghubungi Ricky Rizal) juga centang 1 (tidak masuk). Pernah (menelepon) juga tapi enggak berdering," papar Reza. tribunnews.com

0 Comments