Siapa sangka, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J memiliki kedekatan dengan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi.

Bahkan, sangking dekatnya, Putri pun kerap memamerkan Brigadir J ke ibu-ibu Bhayangkari dengan mengakui anaknya.

Begitu juga kedekatan Putri dengan adik Brigadir J, Bripda Mahareza Rizky Hutabarat yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

Namun, ironisnya Brigadir J justru menjadi korban pembunuhan berencana oleh Putri dan suaminya dibantu oleh dua ajudan serta seorang asisten rumah tangga.

Pembunuhan berencana itu berlangsung di rumah dinas Ferdy Sambo di Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan pada Jumat 8 Juli 2022.

Kisah kedekatan Putri Candrawathi dan Brigadir J diungkapkan oleh sang adik, Bripda Mahareza Rizky Hutabarat dalam acara Rosi di Kompas TV, Kamis (27/10/2022) malam.

Rosi mengawali pertanyaan soal keberanian Bripda Mahareza atau akrab dipanggil Bripda Reza ini mengirim pesan singkat via WhatsApp ke Putri Candrawathi.

Rosi bertanya kenapa Reza berani mengirim chatting terlebih dahulu ke Putri Candrawathi pada Minggu 3 Juli 2022, atau 5 hari sebelum Brigadir J meninggal ditembak di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga, Jakarta Selatan.


Sebab Putri Candrawathi adalah istri Kadiv Propam Polri saat itu, yakni Irjen Ferdy Sambo. Dalam chattingannya, Reza mengucapkan selamat hari minggu. Lalu Putri membalas dengan foto Brigadir J yang sedang menyetrika baju anak Putri dan memuji Brigadir J yang rajin dan luwes.


"Kok berani sih, kamu chat duluan. Itu istri Kadiv Propam loh," tanya Rosi Silalahi.

"Karena waktu itu Ibu tuh bilang, kita nih anak. 'Kamu tuh anak saya'," kata Reza menirukan ucapan Putri Candrawathi.


Bahkan kata Reza, ia pernah bertemu Putri Candrawathi saat ia sedang piket di Mabes Polri. Saat itu ia dan abangnya Brigadir J dikenalkan oleh Putri Candrawathi ke teman-temannya, sesama Bhayangkari (istri polisi).

"Pernah ketemu di Mabes, saat itu saya lagi piket, dan juga ada Abang Yosua. Dia manggil dek, sini dek, di depan teman-temannya. Dia ngenalin saya juga sama teman-temannya sesama Bhayangkari. 'Ini adiknya Reza, ini abangnya Yosua, Saya Emaknya'," kata Reza menirukan ucapan Putri Candrawathi saat mengenalkannya ke ibu Bhayangkari.

"Sampai dirangkul gitu. Habis gitu ya ketawa-ketawa. 'Ini adiknya dan kakaknya loh. Ganteng, ganteng. Baik-baik ini orang. Dua-duanya baik. Bangga saya jadi emaknya'," kata Reza menirukan ucapan Putri Candrawathi lagi.

Menurut Reza, terhadap semua ajudan lain, Putri Candrawathi juga baik.

Karenanya Reza mengaku tidak pernah merasa geer atau gede rasa karena dirinya dan abangnya Brigadir J disayang Putri Candrawathi.

"Ini biasa aja, mungkin ini bentuk perhatian dari atasan ke anggotanya. Mikirnya tetap ke hirarki itu lagi. Karena memang perhatian ibu itu kan baik banget. Tapi saya juga gak pernah merasa kegeeran. Ya udah mikirnya tetap dia pimpinan saya, saya cuma anggotanya. Jauh banget loh, ibarat langit dan bumi jaraknya. Jadi gak pernah kegeeran sih," kata Reza.

Reza mengatakan bahwa abangnya Brigadir J memang sangat sayang kepada mamanya, Rosti Simanjuntak.

Karenanya kata Mahareza yang akrab disapa Reza, mamanya sangat terpukul mengetahui Brigadir J meninggal dengan cara yang tak wajar.

Saat ini kata Reza, ia ingin mamanya melihat bahwa Brigadir J atau Yosua masih ada dan hidup di dalam dirinya sebagai adik.

"Abang sayang banget sama mama. Memang yang paling sayang sama mama, abang banget. Paling perhatian ke mama," kata Reza.

"Abang sudah gak ada, sekarang bagaimana caranya mama merasa oo iya Abang masih ada dalam diri Reza dilihat mama," kata Reza.

Menurut Reza, saat sebelum dan sesudah pemakaman Brigadir J di Jambi, dirinya hanya fokus pada mamanya yang sangat terpukul karena kehilangan Brigadir J.

"Pokoknya fokus ke mama, supaya jangan sakit. Mama nangis dikit peluk, mama sendirian hibur. Ngelakuin hal bodoh pun asal mama tertawa, bodo amat," katanya.

Setelah kematian Brigadir J yang dibunuh dengan diotaki eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, Reza mengaku bertanya ke mamanya, apakah masih ingin dirinya di kepolisian atau tidak.

"Saya tanya, mama mau gimana nih? Mama masih pengen gak Reza di polisi. Reza ikut keinginan mama semua. Mama mau Reza masih di polisi," ujar Reza.

Reza mengungkapkan bagaimana ia saat pertama kali mendengar kabar kematian abangnya.

Menurut Reza, ia mendapat telepon dari salah satu ajudan Ferdy Sambo bernama Daden yang memintanya datang ke Mabes Polri, pada 8 Juli malam sekitar pukul 19.00.


“Waktu itu kurang lebih jam 7 ditelepon ajudan dari FS bertanya lagi di mana, sempet nanya tentang senpi.’Entar ke Mabes ya, ke gedung ini, ke Biro Provos, ada yang nungguin nanti, ada yang mau ngomong,” kata Reza.


Reza mengaku ada yang janggal ketika dia ditanya soal senjata api (senpi). Dia mengatakan bahwa ajudan Sambo sebetulnya tahu bahwa dia tidak memiliki senpi.

Tak hanya itu, Reza diminta datang menggunakan pakaian dinas olahraga (PDO), tapi kemudian diminta datang mengenakan pakaian dinas lapangan (PDL).

Sebelum pergi ke Mabes Polri, Reza memutuskan untuk mampir ke rumah Sambo di Saguling dan bertemu dengan Daden.

Reza yang belum mengenakan PDL karena bajunya masih di laundry pun ditanya. Reza memastikan bahwa dia sudah menelepon pihak laundry bahwa bajunya segera siap. Daden pun memaklumi.

“Pas berhenti di situ omongannya, dia langsung geledah bagian pinggang sampai ke kaki,” cerita Reza.

Rupanya Daden memeriksa apakah Reza membawa senpi atau tidak. Daden bahkan meminta Reza untuk membuka jok motor.

“Sebenarnya ada rasa kaya, ini kenapa sih, sampai ada digeledah,” ungkapnya.

Pada saat itu, Reza mencoba berpikir positif bahwa ada pimpinan yang akan bertemu sehingga dilakukan pemeriksaan sedemikian rupa.


Reza pun datang ke Propam Mabes Polri dan menunggu seseorang yang akan menemuinya selama satu jam.

Ternyata dia bertemu dengan Karo Provos Divpropam Polri Brigjen Benny Ali.

“Di situ diceritakan bahwa abang telah meninggal, kronologi juga kepada beliau meninggal. Pulang dari Magelang, nyampe di Jakarta, ibu istirahat, abang naik ke atas, melakukan pelecehan seksual, pengancaman, ibu teriak, didengar ajudan, namun yang berespon adalah Richard,” cerita Reza.

Reza pun mendengarkan penjelasan dari Brigjen Benny Ali soal penyebab Brigadir J meninggal dunia.


“Cuma bisa nangis, ketika dia menjelaskan saya cuma bisa diam. Ini gimana caranya bilang ke orang tua, apalagi orang tua lagi pulang kampung. Duh, berat banget rasanya,” ungkapnya.

Akhirnya, Reza menyampaikan kabar duka ke kakak perempuannya hingga semua keluarga mendengar kabar itu.


Putri disebut goda Brigadir J


Pernyataan Kamaruddin

Sebelumnya, dalam pernyataannya, Kamaruddin menyebut Putri turut menembak Brigadir J pakai senjata buatan Jerman.

Dalam kesaksiannya, Kamaruddin menyebut Putri Chandrawati ikut menembak Brigadir J.

Kamaruddin mengatakan saat itu penembakan pertama yakni dilakukan Bharada E.

"Awalnya dibilang yang menembak suadara Richard Eliezer," kata Kamaruddin kepada Hakim.


Setelah itu, Kamaruddin mengatakan pihaknya menemukan informasi dan fakta baru Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi juga ikut menembak.

Kamaruddin pun menyebut penembak kliennya berjumlah tiga orang.


Itu berdasarkan hasil investigasi pihaknya.


"Tetapi kemudian kami temukan fakta baru bahwa yang menembak adalah Ferdy Sambo dan Richard Eliezer atau Bharada Richard Eliezer bersama dengan Putri Candrawathi," jelasnya.


Dalam hal ini, Majelis Hakim kembali menegaskan soal Putri yang disebut ikut menembak.

Kamaruddin kembali menjawab jika Putri Candrawathi juga ikut menembak Brigadir J dengan senjata yang diduga buatan Jerman.

"PC terlibat menembak?" tanya Hakim.


"Ya karena ada menggunakan senjata yang diduga buatan Jerman," jawab Kamaruddin.

Selain menyebut Putri ikut menembak Brigadir J, Kamaruddin juga menduga ada wanita simpanan sebagai penyebab Ferdy Sambo dan Putri bertengkar di Magelang pada 6-7 Juli 2022.

Bahkan, Kamaruddin menyebut, bahtera rumah tangga Ferdy Sambo dan istrinya retak sejak lama.

Mereka pun disebut telah pisah rumah.

"Mereka di malam hari itu menginap di sana kemudian sehari sebelumnya itu ada pertengkaran di sana. Pertengkaran antara Ferdy Sambo dan istrinya yaitu tanggal 6 atau 7 Juni 2022," kata Kamaruddin di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Selasa (25/10/2022).

Kamaruddin menyebut, Brigadir J membocorkan dugaan adanya wanita simpanan tersebut kepada Putri.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, Ferdy Sambo dan Putri pun bertengkar.

"Pertengkarannya itu informasinya karena wanita. Kaitannya diduga almarhum diduga pemberi informasi kepada Ibu PC. Informasi bahwa si Bapak ada wanitanya," jelas Kamaruddin.

"Karena informasi yang kami dapat mereka ini sudah pisah rumah. Ibu PC tinggal di Saguling, si Bapaknya ini tinggal di rumah jalan Bangka," ungkapnya.

Setelah memaparkan informasi adanya dugaan wanita simpanan tersebut, Kamaruddin ditanya oleh Majelis Hakim terkait informan yang memberikan informasi tersebut.


Kamaruddin menolak memberikan identitas informannya tersebut.

"Kami mendapatkan informasi itu bersifat rahasia," katanya.


Bantahan pengacara Putri


Ada 7 bukti bantahan yang disampaikan pengacara istri Ferdy Sambo, yakni Febri Diansyah atas tuduhan Kamaruddin Simanjuntak soal Putri Candrawathi ikut menembak Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat.

Putri Candrawathi merupakan satu dari lima tersangka dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J di rumah dinas Ferdy Sambo di Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan pada 8 Juli 2022.

Putri sempat disebut pengacara keluarga Brigadir J, Kamaruddin turut serta menembak Brigadir J yang sebelumnya dilakukan oleh Richard Eliezer alias Bharada E dan Ferdy Sambo.

Jadi, Kamaruddin menyebut, ada tiga orang yang menembak Brigadir J gingga tewas bersimbah darah di bawah tangga rumah.

Tuduhan itu disampaikan oleh Kamaruddin di sidang lanjutan terdakwa Bharada E pada Selasa (25/10/2022).

Kini, kuasa hukum Putri Candrawathi mengeluarkan bantahan atas tuduhan Kamaruddin tersebut.

Febri menyampaikan bantahan terhadap Kamaruddin melalui akun Twitternya.

"Kuasa Hukum Putri Candrawathi telah membantah secara tegas.


Namun utk menjawab banyak pertanyaan agar lbh terang, maka demi edukasi bersama Kami smpaikan 7 bukti bantahan thd tuduhan tsb," cuit Febri di Twitternya, Kamis (27/10/2022).

Febri berharap, persidangan kasus Brigadir J mengacu pada fakta yang sebenarnya sehingga tercipta keadilan.

Bantahan pertamanya yang dituliskan Febri bahwa Kamaruddin samas sekali tidak berada di lokasi kejadian saat tewasnya Brigadir J di rumah dinas Ferdy Sambo pada Jumat (8/7/2022).


"Bukti 1


Kamaruddin tidak melihat atau mendengar scr langsung peristiwa penembakan & tidak berada di lokasi sehingga tidak punya kapasitas sebagak SAKSI FAKTA.

Sehingga keterangannya tidak punya nilai pembuktian sebagai saksi fakta," ujar Febri.

Kemudian Febri juga mengutip sikap majelis hakim terhadap kesaksian Kamaruddin Simanjuntak.


"Bukti 2


Hakim menilai tuduhan tsb sebagai keterangan yg tidak jelas. Bbrpa pertanyaan Hakim tdk bs trjawab. Sehingga menurut Hakim keterangan tsb tdk dapat dipertimbangkan,".

Poin ketiga, lanjut Febri, sejatinya dalam dakwaan jaksa penuntut umum tidak menyebut peran Putri Candrawathi menembak Brigadir J seperti yang diutarakan Kamaruddin.


"Bukti 3


Dakwaan Jaksa sama sekali tidak menyebut peran Putri yg melakukan penembakan, seperti yg dituduhkan Kamaruddin,".


"Bukti 4


Berkas perkara sama sekali tidak memberi petunjuk peran Putri yg ikut menembak, baik dari keterangan saksi, hasil pemeriksaan balistik, visum ataupun ekshumasi dll.

Tidak ada dukungan bukti untuk membenarkan tuduhan Kamaruddin tersebut,".


Poin kelima, Febri menyebut bahwa Putri Candrawathi tak berada di tempat tewasnya Brigadir J.


"Bukti 5


Bu Putri tidak berada di ruangan lokasi penembakan. Seluruh saksi mengetahui, Bu Putri sedang berada di kamar saat peristiwa penembakan terjadi," kata Febri.

Selanjutnya, Febri juga menjadikan pengakuan Bharada E untuk mematahkan klaim Kamaruddin.


"Bukti 6


Richard Eliezer, melalui Kuasa Hukumnya membantah keterangan Kamaruddin, karena menurut Richard Bu Putri tidak ikut menembak.

Pernyataan RE (sbg Terdakwa) yg menerima keterangan saksi2 yg disampaikan diplintir seolah2 membenarkan mengetahui peristiwa," cuit Febri.

Poin terakhir, lanjut Febri, mengutip berkas Pemeriksaan Laboratorium Forensik Polri soal hasil pemeriksaan uji balistik senjata yang menewaskan Brigadir J.


"Bukti 7


Dalam berkas Pemeriksaan Laboratorium Forensik Polri No. 3302/BSF/2022 tgl 5 Agustus 2022 dan ket ahli tidak terdapat senjata buatan Jerman.

Hanya terdapat 2 senjata, yaitu senjata Richard, Glock 17 buatan AUSTRIA dan senjata Josua, yaitu HS buatan CROATIA," tuturnya.


Febri mengklaim masih banyak fakta lain yang bisa diungkapnya.

Namun, ia menghormati proses persidangan yang saat ini masih tengah berjalan.

"Jk berkas perkara dibaca lebih rinci, banyak fakta lain yg bs diungkap. Namun krn proses sidang sedang berjalan, fakta demi fakta dan bukti tsb akan dibuka & diuji di persidangan," katanya.


Ia berharap persidangan pembunuhan Brigadir J yang turut menyeret istri Ferdy Sambo dapat berjalan tanpa adanya hoaks yang berseliweran.

"Harapan Kami sederhana, singkirkan asumsi, halusinasi & hoax. Mari kembali pada fakta yg objektif.

Hanya dg menguji fakta demi fakta di ruang terhormat ini, maka apa yg kt harapkan bersama, keadilan utk semua, khususnya utk korban bs diwujudkan.

Info bohong, hoax, caci maki atau bentuk lain hanya akan merusak kredibilitas proses peradilan yg kt hormati ini.

Terima kasih," papar Febri. tribunnews.com